Kepompong Ekonomi Syari’ah

“Mengindahkan Ekonomi Yang Bersyari’ahkan Islam”

Mengupas Sistem Ekonomi

Posted by kesuinjkt pada 4 Mei 2009

Oleh: Sirot Qudrotullah (Mahasiswa Perbankan Syari’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Pemikiran maupun aliran-aliran pemikiran besar di sekitar ekonomi hingga saat ini, pada umumnya tidak lepas dari dua tradisi pemikiran atau paradigma, yang satu berasal dari Adam Smith dan membentuk aliran utama ekonomi (mainstream economics) dan yang lain berinduk pada teori sosialisme ilmiah Karl Marx.

Dari pengetahuan itu timbul kesan bahwa Smith maupun Marx adalah arsitek tunggal dari masing-masing sistem pemikiran tersebut. Juga timbul kesan bahwa pemikiran mereka itu orisinal, dalam arti sama sekali baru ketika dilahirkan, seolah tidak ada  orang lain sebelumnya yang ikut menyumbang terbentuknya paradigma itu.

Adam Smith (1723-1790), seorang yang dianggap melahirkan ilmu ekonomi dengan bukunya The Wealth of Nations (1776), dari sudut pandangan ternyata tidak bisa dikatakan orisinal. Ia sebenarnya hanyalah merakit dan meramu berbagai pikiran guru dan pendahulu-pendahulunya. Salah satu konsepnya yang paling fundamental, misalnya teori yang mendasari seluruh logika maupun etika mekanisme pasar bebas, yaitu tentang kepentingan diri sendiri (self-interest) di ambilnya dari Hume dan Mendeville. Orisinalitas pemikiran Smith di sini adalah menjadikan konsep yang diambilnya dari teori ilmu fisika Newton tentang mekanisme alam yang bekerja sendiri itu sebagai dasar teori ekoniminya tentang mekanisme pasar bebas.[1]

Smith bukan hanya merakit gagasan-gagasan dari berbagai pemikir yang terdahulu. Ia hanyalah merumuskan gejala-gejala yang sebenarnya sudah berlangsung. Tapi dengan gejala pada saat itu, apa yang dilakuakan Smith adalah suatu yang seharusnya dilakukan oleh seorang ilmuwan empiris. Ia mengabstrasikan gejala yang ia lihat menjadi sebuah konstruksi pemikiran atau teori. Sekalipun dia tidak sendirian dalam melakukan cara membangun pengetahuan itu, namun metode yang dia pakai tersebut memebedakan dirinya dari filosof sosial dalam memikirkan masalah-masalah ekonomi. Itulah yang memperkuat alasan, mengapa kelahiran ilmu ekonomi disahkan dengan terbitnya buku The Wealth of Nation.

Argument yang sama bisa dikenakan terhadap Karl Marx (1818-1883) yang dianggap sebagai pemula paradigma tandingan sistem ekonomi liberal. Ia pertama-tama berhutang pad Hegel, Feurbach, dan Darwin. Sekalipun ia disebut sebagai orang yang menjungkirbalikan teori Hegel, dan melahirkan preposisi baru bahwa ”bukan kesadaran yang membentuk keadaan, melainkan sebaliknya, keadaanlah yang membentuk kesadaran,” tetapi tak urung ia memperoleh ide itu dari Hegel juga. Metode materialisme historis diperolehnya dengan menggabungkan metode dialektika Hegel, pandangan filsafat materialisme Feurbach dan teori evolusi Darwin. Teorinya yang paling fundamental mengenai nilai lebih (surplus value) berasal dari teori nilai kerja (labour theory of value), sehingga dalam pohon keluarga pemikir ekonomi yang di buat Samuelson, ia diturunkan dari percabangan pemikiran David Ricardo (1772-1823).

Dan tentu saja ia bukanlah pemula gagasan sosialisme. Gagasan itu dia kembangkan dari pemikiran orang-orang yang ia sebut sebagai penganut sosialisme utopia, khususnya Robert Owen (1771-1858), Henri Saint Simont (1760-1825), Charles Fourier (1772-1837) dan Pierre Joseph Proudhon (1809-1865). Hampir semua pemikiran Marx tumbuh dari kritik-kritiknya terhadap pemikiran-pemikiran terdahulu.

Para pemikir ekonomi diatas, terlepas dari latar belakang mereka masing-masing, adalah para cendikiawan yang memiliki pandangan moral dan politik. Mereka mengeluarkan pandangan-pandangan itu dalam rangka menanggapi masalah yang mereka hadapi dan dihadapi oleh masyarakat dan bangsa mereka masing-masing. Oleh sebab itu, posisi negara dan bangsa mereka ikut memprngaruhi pandangan mereka. Demikian pula latar belakang pekerjaan dan kedudukan mereka dalam masyarakat dan situasi politik. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana para pemikir ekonomi Indonesia seperti Sumitro Djojohadikusumo, Bung Hatta, Syarifudin Prawiranegara, dan yang lain merumuskan ekonomi Indonesia?! (*)


[1] Diambil dari pidato Prof.Dr.M. Dawam Rahardjo saat pengukuhan guru besar dalam bidang Ekonomi pembangunan di UMM 1994

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: