Kepompong Ekonomi Syari’ah

“Mengindahkan Ekonomi Yang Bersyari’ahkan Islam”

Penyelesaian Sengketa Dalam Perbankan Syari’ah

Posted by kesuinjkt pada 29 Maret 2009

Pada dasarnya tidak seorang pun menghendaki terjadinya sengketa dengan orang lain. Tetapi di dalam hubungan bisnis atau suatu perjanjian, masing-masing pihak harus mengantisipasi kemungkinan timbulnya sengketa yang dapat terjadi setiap saat di kemudian hari. Sengketa yang perlu diantisipasi dapat timbul karena perbedaan penafsiran baik mengenai BAGAIMANA ”cara” melaksanakan klausul-klausul perjanjian maupun tentang APA ”isi” dari ketentuan-ketentuan di dalam perjanjian, ataupun disebabkan hal-hal lainnya.

Selain itu suatu konflik yang terjadi akibat dari perbedaan kepentingan dapat berkembang menjadi sebuah sengketa apabila pihak yang merasa dirugikan telah menyatakan rasa tidak puas atau keprihatinannya, baik secara langsung kepada pihak yang dianggap sebagai penyebab kerugian atau kepada pihak lain.

Sengketa tidak terjadi jika pihak yang berkonflik dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik, tetapi jika tidak tercapai solusi pemecahan maka terjadilah sengketa.

Sejalan dengan fungsinya sebagai lembaga intermediary, yaitu lembaga yang berperan menerima simpanan dari nasabah dan meminjamkannya kepada nasabah yang membutuhkan dana, juga bertindak sebagai perantara bagi para pelaku transaksi perdagangan. Maka bank syariah dalam operasinya selalu berhubungan dengan individu, korporasi, dan juga lembaga keuangan lainnya.

Dari persinggungan itu masing-masing pihak membawa kepentingan yang berbeda, untuk itu sebaiknya masing-masing pihak menyamakan visi agar hubungan bisnis dapat berjalan dengan baik dan lancar. Karena perbedaan itu sangat rentan dengan konflik yang kemudian dapat berujung pada sengketa.

Terdapat banyak permasalahan yang berpotensi menimbulkan sengketa dalam praktik perbankan syariah antara bank dengan nasabah. Kemungkinan sengketa itu biasanya berupa komplain karena ketidaksesuaian antara realitas dengan penawarannya, tidak sesuai dengan spesifikasinya, tidak sesuai dengan aturan main yang diperjanjikan, layanan dan alur birokrasi yang tidak masuk dalam draft akad, serta komplain terhadap lambatnya proses kerja.

Adanya permasalahan-permasalahan tadi sebenarnya bisa diatasi melalui penyelesaian internal bank itu sendiri. Adapun langkah-langkah yang biasanya ditempuh oleh para pihak ketika terjadi sengketa adalah sebagai berikut:

  1. Mengembalikan kepada butir-butir akad yang telah ada sebelumnya, yang mana dalam sebuah akad biasanya memuat klausula penyelesaian sengketa yang terdiri atas pilihan hukum (choice of law) dan pilihan forum atau lembaga penyelesaian sengketa (choice of forum).
  2. Para pihak yakni bank dan nasabah kembali duduk bersama untuk mendudukkan persoalan dengan fokus terhadap masalah yang dipersengketakan.
  3. Mengedepankan musyawarah dan kekeluargaan.
  4. Pengadilan hendaknya dijadikan solusi terakhir jika memang diperlukan.

Untuk mengetahui lebih jelas dan lebih lengkapnya, silahkan dowload file ini disini atau disini dengan menggunakan 4shared yang tersedia dengan PowerPoint-nya

Satu Tanggapan to “Penyelesaian Sengketa Dalam Perbankan Syari’ah”

  1. yah, selayaknya sebagai manusia pasti terjadi pertentangan dan persengketaan dan itu wajar. makalah ini sangat bermanfaat dan berguna sekali. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: