Kepompong Ekonomi Syari’ah

“Mengindahkan Ekonomi Yang Bersyari’ahkan Islam”

Menguak Sejarah Lembaga Ekonomi Syari’ah

Posted by kesuinjkt pada 20 Maret 2009

Jauh sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab telah dikenal sebagai pedagang yang sangat ulung. Mereka berdagang hingga ke berbagai negara di belahan dunia. Dari tanah Arab, mereka membawa dagangannya hingga ke Afrika, Asia Tengah, Asia Tenggara, hingga ke Eropa.

Di masa jahiliyah tersebut, sistem perdagangan (ekonomi) jauh dari prinsip-prinsip keadilan. Para pedagang berusaha mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memedulikan benar atau salah. Tetapi, ketika Islam datang, segala bentuk perdagangan yang merugikan dan bersifat judi (maysir), tidak jelas (gharar), dan berbunga (riba) dihapuskan. Sebab, hal itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, berkeadilan, dan transparan.

Saat Muhammad mengikuti pamannya, Abu Thalib, berdagang ke Syam, beliau telah mempraktekan sistem perdagangan yang jujur sehingga bisa menghasilkan keuntungan yang baik dan tidak merugikan pihak pembeli. Sehingga masyarakat merasa senang melakukan perdagangan dengannya. Begitu juga ketika beliau turut membawa dagangannya Siti Khodijah. Dengan sifatnya yang dikenal jujur (al-Amin), barang dagangannya laku terjual.

Ketika Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul, beliau pun tetap melakukan sistem perdagangan yang jujur, transparan, terbuka dan berkeadilan. Sistem perdagangan ini masih dilakukan secara pribadi dan kekeluargaan, belum melembaga dalam sebuah sistem terstruktur.

Karena itu, di zaman beliau belum ada sebuah lembaga keuangan Islam yang mengatur sistem perdagangan secara sistematis, kecuali selalu merujuk pada ajaran al-Qur’an. Beliau senantiasa mempraktekan sistem perdagangan dengan tujuan membantu kaum yang lemah (fakir miskin).

Semasa kepemimpinan Rasulullah, bila beliau mendapat amanah zakat ataupun sedekah dari umat Islam di pagi hari, ba’da dzhuhur zakat dan sedekah itu sudah terbagi habis kepada kaum fakir miskin. Demikian juga dengan harta rampasan perang yang diperoleh kaum Muslim. Biasanya, setelah selesai peperangan, beliau sendiri yang membagikannya tanpa ada yang tersisa.

Sistem yang diterapkan Rasulullah SAW ini kemudian diteruskan khalifah Abu Bakar Shiddiq RA hingga permulaan ke-Khalifahan Umar ibn Khattab RA. Tetapi, dengan semakin luasnya kawasan yang dibebaskan dan daerah yang ditaklukkan, kekayaan dari rampasan perang juga bertambah, termasuk pemasukan dari kharaj dan jizyah (pajak).

Setiap yang ditaklukkan, pihak Muslim mengadakan persetujuan dengan pihak yang ditaklukkan, berupa pembayaran jizyah sebesar dua dinar per-kepala. Belum termasuk kharaj tanah yang harus dibayar para petani. Hasil kesepakatan yang didapatkan dari kharaj dan jizyah itu kemudian dibagikan untuk kepentingan umat Islam. Semuanya masih diatur secara sangat sederhana.

Baitul Maal

Meski sebagian hasil rampasan dan pemasukan dari kharaj dan jizyah ini sudah dikeluarkan untuk membiayai pembangunan berbagai fasilitas umum serta ketertiban hukum di daerah yang ditaklukka, kelebihan dari semua hasil pemasukan itu masih sangat besar. Kondisi tersebut memaksa khalifah Umar ibn Khattab RA memikirkan suatu sistem moneter atau keuangan negara yang baru tumbuh itu.

Dalam beberapa sumber, dikisahkan bahwa sepulangnya dari menaklukkan Bahrain, Abu Hurairah RA menghadap khalifah Umar dengan membawa uang 500 ribu dirham – jumlah yang sangat besar pada masa itu – sebagai hasil rampasan perang. Sejak saat itu, Umar membentuk lembaga keuangan khusus atau yang lebih dikenal dengan istilah baitul maal.

Pada tahap awal, keberadaan baitul maal difungsikan sebagai tempat utnuk menghimpun kelebihan dari hasil rampasan perang serta pemasukan dari pembayaran jizyah dan kharaj. Dari dana yang terkumpul di baitul maal ini, Khalifah Umar mulai menerapkan sistem pemberian tunjangan kepada orang-orang Arab pedalaman yang selama ini menjadi tentara pasukan Islam.

Pemberian tunjangan ini dimaksudkan agar para tentara tersebut dapat mengkhususkan diri dalam berjihad di jalan Allah, mereka bebas sepenuhnya melaksanakan tugas dakwah. Tujuan lainnya agar tentara Muslim ini senantiasa siap melaksanakan tugas dalam menegakkan agama Islam dan siap melawan tentara Persia, Romawi dan lainnya.

Bersamaan dengan diberlakukannya sistem ini, Umar mulai menerapkan pelarangan pembagian tanah kepada tentara di daerah yang sudah diduduki supaya mereka tidak mementingkan mengolah tanah daripada berjihad.

Tidak hanya tunjangan bagi orang-orang dari kalangan militer, baitul maal ini juga mengurusi tunjangan bagi masyarakay sipil. Dalam beberapa sumber, lembaga tersebut digambarkan layaknya sebuah kantor registrasi yang mencatat dan menghitung orang-orang dari kalangan militer dan sipil yang harus mendapat tunjangan.

Tunjangan ini digunakan oleh masyarakat, antara lain untuk kegiatan perniagaan, pertanian ataupun pengembalaan hewan ternak. Sebagian besar mereka menerima tunjangan itu dan mengembangkannya dalam perdagangan. Karena itu, mereka yang mendapat tunjangan cepat sekali memperoleh kekayaan, yang dapat dihitung sampai ribuan dengan kelebihan yang berlipat ganda.

Sistem lembaga keuangan yang diterapkan oleh khalifah Umar ibn Khattab RA ini diteruskan oleh ke-Khalifah-an Islam, dana baitul maal tersebut juga banyak dipergunakan untuk memerdekakan budak. Sehingga baitul maal ini memiliki peran besar dalam menghapus sistem perbudakan di wilayah kekuasaan Islam.

Ketika dunia Islam berada di bawah kepemimpinan Khalifah Bani Umayyah, kondisi baitul maal berubah. Jika pada masar sebelumnya baitul maal dikelola dengan penuh kehati-hatian sebagai amanat Allah SWT dan amanat rakyat, pada masa pemerintahan Bani Umayyah baitul maal berada sepenuhnya di bawah kekuasaan khalifah tanpa dapat dipertanyakan atau dikritik oleh rakyat.

Keadaan tersebut berlangsung sampai datangnya khalifah ke-8 Bani Umayyah, yakni Umar ibn Abdul Aziz (memerintah 717-720 M). Umar berupaya untuk membersihkan baitul maal dari pemasukan harta yang tidak halal dan berusaha mendistribusikan kepada yang berhak menerimanya. Umar membuat perhitungan dengan para amir (setingkat dengan gubernur) agar mereka mengembalikan harta yang sebelumnya dari sesuatu yang tidak sah.

Kebijakan baru ini dimulai dari diri Umar sendiri yang mengembalikan harta miliknya pribadinya. Di antara harta itu, terdapat milik perkampungan Fadak (desa di sebelah utara Makkah) yang sejak Rasulullah SAW wafat dijadikan milik negara. Namun, pada masa khalifah ke-4 Bani Umayyah (memerintah 684-685 M), harta tersebut dimasukkan sebagai milik pribadi khalifah dan mewariskannya kepada keturunannya.

Pada masa Umayyah, khususnya Umar ibn Abdul Aziz ini, fungsi baitul maal terus meluas. Tidak hanya sekedar menyalurkan dana tunjangan, tetapi juga dikembangkan dan diberdayakan untuk menyalurkan pembiayaan demi keperluan pembangunan sarana dan prasarana umum. Bahkan, baitul maal juga dipakai untuk membiayai proyek penerjemahan buku-buku kekayaan intelektual Yunani kuno. Di sinilah gelombang intelektual Islam dimulai.

Di era dinasti Abbasiyah di Baghdad, khalifah membangun perpustakaan al-Hikmah, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, seperti Nizhomiyah. Baghdad kala itu sudah menjadi kota metropolitan. Pada saat yang sama, Barat masih gelap gulita.

Pada era imperialisme Barat, praktik lembaga keuangan Islam, seperti baitul maal, masih diteruskan umat Islam dalam kelompok-kelompok kecil, misalnya di masjid dan lembaga umat lainnya. Bahkan, pada pertengahan abad 19, praktik lembaga keuangan yang serupa dengan baitul maal dikembangkan dalam skala yang lebih besar dan cakupannya luas, yakni berupa lembaga perbankan Syari’ah.

4 Tanggapan to “Menguak Sejarah Lembaga Ekonomi Syari’ah”

  1. Denis said

    Insy4jj1 maju bersama kepompong ekonomi syariah (KES)

  2. ass…
    jika ada anda memiliki artikel tentang perekonomian syariah atau sesuatu yang bersifat menbangun ..
    jika punya infomasi tentang perekonomian syariah
    tolong kirim ke email kami rahmat_cuper@yahoo.co.id
    terimakasih atas perhatiannya…

  3. ada kah pratek perbankan syariah pada masa rasullah…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: